Menjelajahi Dunia Bersama Rabbanitour – Sejarah Kota Mesir Kuno

Sejarah Kota Mesir Kuno – Sembilan Ribu Tahun yang lalu datanglah orang-orang nomaden yang selalu berpindah tempat untuk mencari penghidupan, mereka berburu binatang dan mengumpulkan makanan di hamparan padang rumput yang hijau. Berjalannya waktu, padang rumput berubah dikarenakan perubahan iklim yang menjadi panas, merubah padang rumput menjadi sebuah hamparan padang pasir yang kering dan panas, kecuali lembah Nil. Orang-orang mulai berpindah lagi, menuju tempat yang lebih subur yaitu sepanjang jalur sungai Nil. Mereka mulai membangun sebuah pemukiman dan bercocok tanam.

[ Paket HEBAT, Umroh + CAIRO hanya 25 JUTA ]

Pemukiman mesir kuno pun terbentuk dan berkembang menjadi desa dan kota. Pemukiman tersebut terus berkembang menjadi semakin besar. Beberapa komunitas masyarakat terbentuk, sebagian dari mereka ada yang bergabung dengan komunitas lainnya dan ada juga yang saling menaklukkan satu sama lainnya.

Sejarah Kota Mesir Kuno
Sejarah Kota Mesir Kuno

Sejarah Kota Mesir Kuno – Kerajaan Mesir Lama (3100-2134 SM)

Sekitar 3100 Sebelum Masehi, Mesir kuno terdiri atas dua kerajaan. Di sebelah utara, orang-orang di sekitaran Delta Nil membentuk sebuah kerajaan Mesir Hilir. Sementara di bagian selatan, kerajaan Mesir Hulu yang membentang hingga arung jeram pertama Sungai Nil. Menurut legenda, raja Mesir Hulu di kala ialah Menes. Sebagian sejarawan berpikir bahwa Menes merupakan orang yang sama dengan raja yang disebut Narmer. Raja Narmer berhasil menguasai Mesir Hilir yang kemudian menyatukan kedua daerah tersebut menjadi satu kerajaan. Dengan penyatuan antara dua wilayah ini, dimulailah peradaban Mesir kuno dari sejak itu.

Periode pertama dari sejarah Mesir kuno ini disebut Kerajaan Lama. Periode yang berlangsung dari sekitar 2650 SM sampai 2150 SM. Selama periode itu, Mesir telah membentuk pemerintahan pusat dan dipimpin oleh seorang raja. Para penguasa awal mendirikan kota Memphis yang letaknya berada di perbatasan anatar Mesir Hulu dengan Mesir Hilir.

Begitu juga sebagian besar piramida Mesir kuno dibangun selama periode Kerajaan Lama. Strukturnya yang begitu besar dan kuat, dibangun sebagai makam kerajaan. Mereka juga memiliki kuil untuk pengkultusan raja dan ratu, yang mereka yakini sebagai dewa. Piramida pertama yang dibangun adalah piramida bertangga di Saqqara, piramid tersebut dibangun sekitar 2650 SM.

[ Biaya Umroh Plus Mesir ]

Kerajaan Lama ini berakhir dikarenakan perang saudara dan kekerasan. Selama periode kerajaan tersebut telah terjadi kekeringan yang panjang, yakni saat air Sungai Nil tidak bisa naik cukup tinggi untuk membanjiri tanah. Sehingga tanaman mengalami kekeringan dan banyak orang kelaparan. Darisanalah keluarga kerajaan mulai kehilangan kontrol, dan banyak nomarch, atau para gubernurnya yang melakukan pemberontakan melawan kerajaan. Penduduknya mulai menyerang makam dan istana. Setelah itu terjadi, datanglah para penjajah dari Nubia, selatan Mesir, mereka mulai bergerak memasuki kawasan Mesir.

Sejarah Kota Mesir Kuno

Sejarah Kota Mesir Kuno – Kerajaan Mesir Tengah (1975-1640 SM)

Antara akhir Kerajaan Mesir Lama dan awal Kerajaan Mesir Tengah disebut dengan Periode Menengah Pertama. Selama kurun waktu itu, wilayah Mesir kuno tidak bersatu di bawah satu raja. Kemudian para penguasa lokal, nomarch, menjadi penguasa yg paling penting. Akhirnya, mereka saling memperebutkan kekuasaan. Dua situs sejarah yaitu Herakleopolis Magna yang terdapat di sebelah utara dan Thebes di selatan, menjadi pusat paling utama kekuasaan.

Sekitar tahun 1975 SM, di bagian akhir Dinasti XI, Mesir kemudian bersatu kembali di bawah penguasa Mentuhotep. Dalam Dinasti XII, serangkaian para penguasa yang kuat saling berebut kekuasaan. Yang pertama ialah Amenemhet I, merupakan pendiri ibu kota baru di dekat Memphis. Darisinilah Mesir menjadi sebagai sebuah kerajaan tunggal yang menandai dimulainya periode besar kedua dalam catatan sejarah Mesir kuno, yang dikenal sebagai Kerajaan Mesir Tengah.

Baca Juga Artikel Mengenai:

Para penguasa Dinasti XII juga membuat pertahanan Mesir yang kuat. Raja Senusret III membangun serangkaian benteng yang berbahankan bata & lumpur di sepanjang wilayah selatan Sungai Nil untuk melindungi dari serangan suku Nubia dan juga sebagai tempat mengontrol perdagangan.

Para penguasa baru ini terlalu memaksakan kekuasaan mereka pada nomarch yg sudah lama tumbuh begitu kuat di daerahnya. Nomarch ini biasanya ditunjuk oleh raja, namun selama periode interim posisi kedudukan nomarch ini menjadi turun temurun. Nomarch mulai membangun sebuah kuburan mereka sendiri & mengangkat imam untuk mereka sendiri agar tetap terjaga kultus mereka. Nomarch pada dasarnya sudah menjadi raja untuk wilayah mereka masing-masing.

Setelah adanya perubahan dari Kerajaan Mesir Tengah, lalu para nomarch itu dipaksa untuk wajib bayar pajak dan diharuskan untuk menyediakan pasukan untuk menjadi tentara Mesir. Raja-raja dari Kerajaan Mesir Tengah menutup pengadilan nomarch yang kemudian mengambil sebagian besar hak-hak mereka. Posisi nomarch tidak lagi secara turun-temurun, dan untuk penguasa lokal hanya ditunjuk oleh raja.

Penguasa Kerajaan Mesir Tengah berusaha untuk membuat Mesir lebih makmur dan kaya. Mereka menaklukkan wilayah Nubia dan membuka kembali hubungan dagang dengan beberapa wilayah lainnya, seperti ke Palestina dan Suriah. Raja Amenemhet III mengeringkan rawa-rawa yang berada di wilayah Fayyum untuk menciptakan lahan baru yang akan digunakan untuk pertanian. Raja lainnya juga memperbesar kuil-kuilnya menjadi lebih besar untuk dewa Amun di Karnak.

Sekitar tahun 1756 SM, Dinasti XII diteruskan oleh Dinasti XIII dan XIV. Kali ini juga Raja-raja Mesir mulai kehilangan kekuasaan mereka. Pemukim yang berasal dari Asia barat daya -kemungkinan sekarang daerahnya adalah Israel, Palestina, dan Lebanon- telah bergerak menuju wilayah Delta di seluruh Kerajaan Mesir Tengah. Orang-orang ini (pemukim), yang oleh orang Mesir disebut sebagai Hyksos, mereka membawa serta kereta, berbagai senjata dan juga teknologi baru lainnya. akhirnya di tahun 1630 SM, Hyksos berhasil merebut kekuasaan para raja Mesir Tengah.

Sejarah Kota Mesir Kuno – Kerajaan Mesir Baru (1539-1075 SM)

Pada periode 1640 SM hingga 1539 SM dikenal sebagai Periode Menengah Kedua. Selama periode ini, orang-orang Hyksos memerintah bagian utara Lembah Nil. Pada sekitar 1600 SM, para raja-raja Mesir Hulu mengadakan penyerangan kemerdekaan melawan Hyksos. Setelah perjuangan yang begitu panjang, akhirnya mereka berhasil mengusir Hyksos ke luar kerajaan.

Pemimpin raja-raja Mesir Hulu, Ahmose I, diangkat menjadi raja pertama dari Dinasti XVIII pada sekitar 1539 SM. Ini merupakan awal dari periode ketiga dan terbesar di wilayah Mesir kuno, yang oleh sejarawan sering disebut sebagai Kerajaan Baru. Periode ini berlangsung selama sekitar 500 tahun lamanya. Selama periode ini berlangsung, wilayah Mesir tumbuh menjadi salah satu kekuatan terkuat di zaman kuno.

Para penguasa pada dinasti baru ini kemudian mulai membangun sebuah tentara permanen, dengan menggunakan kereta dan juga beberapa peralatan militer lainnya yang diadopsi dari bangsa Hyksos. Orang-orang Mesir mulai menaklukkan daerah-daerah yang kelak akan dikenal sebagai Palestina & Suriah, dan mulai memperluas perbatasan Mesir sampai ke Sungai Orontes di timur laut. Di selatan wilayah Nubia menjadi salah satu provinsi Mesir. Sumber-sumber kekayaan yang terdapat di daerah tersebut diangkut ke Mesir dan digunakan untuk menghiasi bangunan kuil, makam, dan membuat istana baru yang megah.

[ Berwisata Halal Muslim Mengunjungi Piramid ]

Selama berabad-abad lamanya, sebagian rakyat Mesir menyembah Amun, yaitu dewa yang paling penting dari semua para dewa. Tapi pada tahun 1353 SM, Amenhotep IV mulai menduduki tahta kekuasaan & membuat perubahan yang begitu dramatis pada agama yang ada di Mesir. Raja baru ini menyatakan hanya ada satu dewa, bukan dewa Amun tetapi merupakan perwujudan sebagai dewa matahari yang dikenal sebagai Aten.

Amenhotep mengubah namanya menjadi Akhenaten, yang berartikan “Dia yg melayani atau bermanfaat bagi dewa Aten.” Akhenaten kemudian membangun ibukota baru di Amarna, yang disebut dengan Akhetaten, yang artinya “Horizon Aten.”

Akhenaten menutup kuil-kuil Amun dan memerintahkan agar nama dewa itu dihapus dari monumen. Setelah kematian Akhenaten, mulailah penggantinya mengakhiri perubahan agama ini dan mengembalikan ke kultus tradisional dewa Amun. Beberapa firaun yang merupakan penerus Akhenaten adalah dua pemimpin militer yang besar, yaitu Seti I dan putranya Ramses II. Merekalah yang telah mengalahkan bangsa Het, kekuatan besar yang berada di Timur Tengah, kemudian mereka memperkuat kontrol Mesir atas Nubia.

Demikian paparan artikel mengenai Sejarah Kota Mesir Kuno semoga bermanfaat. Dapatkan Info-info promo mengenai Paket Umroh 2017 dan Paket Wisata Mesir Alexandria bersama Rabbanitour, hubungi Call Center kami di 0822-8000-1799.

You might also like More from author