Travel Umroh Terpercaya 2017

Berita Seputar Haji – Perbedaan Haji Reguler, Khusus dan Non-Kuota

Perbedaan Haji Reguler, Khusus dan Non-Kuota – Terdapat tiga cara untuk melaksanakan ibadah haji bagi masyarakat di Indonesia yaitu dengan cara haji regular, haji Khusus (dulu disebut ONH Plus) Kuota dan Haji Khusus Non Kuota. Ketiga cara itu menentukan bagaimana ibadah haji dilakukan dan apakah para calon jemaah haji betul-betul dapat menunaikan ibadah haji atau tidak.

Perbedaan Haji Reguler, Khusus dan Non-Kuota
Perbedaan Haji Reguler, Khusus dan Non-Kuota

Pada prinsipnya, para Jemaah haji yang akan berangkat ke Baitullah harus memiliki ijin masuk yang biasa disebut dengan Visa dari Kedutaan Besar Arab Saudi (KBSA). Kerajaan Arab Saudi merupakan the custodian of the two holy places yaitu penjaga dua kota suci; Mekkah dan Madinah. Penjaga dua kota suci tersebut terus berganti setiap waktu. Dahulu Kaum Kafir Quraisy pernah menjaga kota Mekkah sebelum Nabi. Kemudian Kekhalifahan Turki Utsmani juga pernah menjaganya.

Visa haji yang diberikan secara gratis ini hanya membolehkan pemiliknya hanya untuk mengujungi tiga kota saja: mendarat di Jeddah, kemudian mengunjungi Mekkah dan Madinah. Perjalanan dari Jeddah menuju Mekkah atau Madinah pun harus melalui jalur tol khusus dengan menggunakan bus atau taksi. Jadi pemegangnya tidak boleh jalan-jalan ke sembarang kota-kota lain di Arab Saudi.

Berhubung para Jemaah haji semakin banyak, maka pemerintah Arab Saudi membatasi kuota Jemaah haji. Setiap tahunnya tercatat sekitar 3 juta Jemaah haji, karena keterbatasan ruang yang mesti disediakan untuk mengantisipasi jalur perjalanan antara Mekkah-Arafah-Mina (Armina) yang juga merupakan tempat para Jemaah berkumpul di setiap tahunnya. Maka jemaah dibatasi dengan system kuota yang kira-kira hitungannya 1 jemaah haji untuk 1000 muslim di negara tersebut. Penduduk muslim Indonesia yang jumlahnya sekitar 210 juta maka akan mendapatkan kuota sekitar 210 ribu Jemaah haji (contoh pada tahun 2012). Sehingga calon Jemaah diharuskan untuk mengantri agar dapat beribadah ke Baitullah. Dalam kuota ini maka terbagi menjadi kuota bagi Jemaah regular dan kuota untuk Jemaah haji khusus (yang disebut ONH Plus) yang sejak 2004 pendaftaran juga mekanismenya turut dikelola oleh pemerintah. Dahulu, Jemaah haji plus dikelola secara mandiri oleh jasa travel perjalanan haji, meskipun pemerintah juga sudah mengelola dari sejak tahun 1949.

Perbedaan Haji Reguler, Khusus dan Non-Kuota

Berikut perbedaannya akan dibahas satu-persatu:

Haji Reguler

Perbedaan Haji Reguler, Khusus dan Non-Kuota - Alur Pendaftaran Haji Reguler
Perbedaan Haji Reguler, Khusus dan Non-Kuota – Alur Pendaftaran Haji Reguler

Dibandingkan dengan dua jenis haji lainnya, haji regular terbilang biayanya yang paling murah dan juga waktu di Arabnya paling lama, disamping itu tentu waktu tunggunya juga paling lama. Haji regular dikelola langsung oleh pemerintah sejak tahun 1971 dan kemudian dimasukkan ke dalam sistem antrian haji yang disebut Siskohat. Kuota Jemaah haji regular dihitung dari berdasarkan jumlah penduduk muslim dari tiap Kabupaten/Kota yang didapatkan dari pembagian kuota secara nasional. Jadi antrian untuk satu kabupaten bisa berbeda dengan kabupaten lainnya. Contoh jika ada 2 orang jamaah haji yang mendaftar, yang satu berasal dari Kabupaten Magelang dan satunya lagi dari Kota Magelang meskipun keduanya mendaftar dalam waktu yang sama dan mendapatkan nomor porsi, bisa saja estimasi untuk keberangkatannya berbeda tahun, tergantung antrian dan kuota di kabupaten atau kota yang bersangkutan. Karena kuotanya per-kabupaten, Jemaah haji hanya bisa mendaftar di kabupaten berdasarkan domisili pada Kartu Tanda Penduduk.

Haji reguler merupakan haji dengan biaya yang paling murah, seiring dengan tuntutan peningkatan pelayanan ibadah haji. Karena meningkatnya kemampuan ekonomi, jemaah haji juga menuntut perbaikan layanannya misalnya yang berkaitan dengan akomodasi, menu makan, juga transportasi. Sebelum berangkat ke tanah suci, para Jemaah haji reguler akan mendapatkan bimbingan manasik dari Kemenag di setiap Kabupaten/Kota. Seringkali persiapannya akan memakan waktu tidak sedikit dan dapat menciptakan keakraban diantara para Jemaah haji. Silaturahmi ini akan terus terjaga sampai sepulang dari berhaji. Setelah berlatih manasik, para Jemaah haji akan dikarantina di asrama haji yang didirikan oleh pemerintah selama kurang lebih beberapa hari/minggu. Karantina ini diperlukan karena mengingat tidak sedikit dari para jamaah yang belum faham peraturan sehingga diantara mereka masih membawa barang-barang yang dilarang dalam penerbangan.

Di tanah suci, para Jemaah haji reguler dapat menghabiskan waktu antara 30 sampai 40 hari. Hampir semua Jemaah haji reguler memiliki kesempatan untuk melasanakan Sholat Arbain selama 8 hari di Masjid Nabawi. Setibanya di bandara Jeddah, jika masih lama dari waktu berhaji, Jemaah  reguler akan pergi terlebih dahulu ke Madinah dan baru kemudian menuju Mekkah. Namun jika tiba saat puncak haji, akan langsung menuju ke Mekkah dulu baru kemudian menuju ke Madinah. Jemaah haji reguler mesti pandai-pandai untuk menjaga staminanya agar pada saat beribadah haji kondisi fisik Jemaah dalam keadaan prima.

Baca Juga Artikel Lainnya Mengenai:

Jemaah haji regular ini sangat cocok bagi mereka yang memiliki keterbatasan dana, tetapi ingin lebih lama di tanah suci. Kelompok tersebut juga mendapatkan dukungan dari pemerintah Indonesia.

Haji Khusus (dulu disebut ONH Plus)

Perbedaan Haji Reguler, Khusus dan Non-Kuota – Alur Pendaftaran Haji Khusus

Haji khusus merupakan bagian dari tuntutan perbaikan ekonomi, bagi mereka yang tidak lagi merasa puas dengan pelayanan haji reguler. Dalam perjalanan haji, jika perjalanan berwisata lain anda membayar lebih mahal untuk berlibur untuk mendapatkan waktu yang lebih lama, berbeda di ibadah haji, anda membayar mahal untuk waktu yang lebih sebentar. Waktu semakin sebentar, makan akan semakin mahal. Paket haji khusus yang pelaksanaannya hanya 21 hari akan lebih murah dibandingkan dengan 14 hari (puncak ibadah haji hanya dalam 5 hari).

Jemaah Haji Khusus Kuota ini pendaftarannya dikoordinir langsung oleh Kemenag, namun pelayanan juga fasilitasnya dilakukan oleh travel-travel secara mandiri. Pelayanannya dua kali lipat diatas haji reguler, mengingat harganya juga sekitar dua kali lipat lebih mahal. Manasik Jemaah haji khusus ini tidak dilakukan di kantor-kantor Kemenag namun bisa dilakukan di hotel-hotel. Hotel juga menjadi tempat transit sebelum keberangkatan, tidak lagi di asrama haji. Di tanah suci, Jemaah haji khusus akan mendapatkan hotel berbintang dengan makanan yang bisa dikatakan lebih enak dan tempatnya lebih dekat dengan (kadang di depan persis) Majidil Haram dan Masjid Nabawi. Tenda-tenda untuk tempat istirahat ketika wuquf juga lebih baik.

Jika para jemaah Haji Reguler harus menunggu untuk beberapa tahun untuk bisa berhaji, berbeda dengan Jemaah Haji Khusus hanya menunggu untuk waktu yang akan lebih pendek. Kuota untuk Jemaah Haji khusus ini sekitar 17 ribu (dari 230 ribu penduduk Indonesia) yang hitungannya secara nasional dan tidak lagi dibagi per-kabupaten. Pendaftaran haji khusus juga tidak dilakukan di Kantor Kemenag namun di biro perjalanan haji. Dana awal haji kemudian disetorkan ke rekening pemerintah agar mendapatkan “nomor porsi” melalui Siskohat.

Haji Khusus Non-Kuota

Diluar Haji Khusus yang dikoordinir pendaftarannya oleh Kemenag yg dilakukan melalui sistem terpadu (Siskohat), masih ada travel yg juga mengkoordinir Jemaah khusus mereka secara masing-masing. Jemaah haji yg menggunakan jalur ini sering didiskriminasi dengan sebutan haji non-kouta. Jemaah Haji Non-Kouta ini mengandalkan pada pemberian visa haji dari KBSA yg jumlahnya tiap tahun bisa setara dengan haji khusus kuota.

Haji non-kuota di satu sisi merupakan sisa-sisa pengelolaan haji mandiri yg dilakukan individu dan juga kelompok agama sebelum akhirnya diambil alih oleh pemerintah dan disisi lain menjadi peluang bisnis travel haji. Sebelum ada di Indonesia, banyak orang yg sudah berhaji. Kemudian mereka menggunakan berbagai macam jaringan, seperti berafiliasi dengan ulama, dagang, keluarga dan sebagainya. Pemerintah berusaha untuk menghilangkan haji non-kuota ini agar semua jamaah haji berada di bawah kontrol pemerintah. Dengan biaya yg sama, Jemaah haji non-kuota ini bisa mendapatkan fasilitas yg lebih baik daripada haji khusus. Travel-travel yg sudah berpengalaman mampu melakukan efisiensi sehingga dapat memberikan pelayananan haji yg lebih baik.

Terdapat beberapa keuntungan juga kerugian ketika menggunakan jalur Haji Khusus Non Kuota. Salah satu keuntungannya adalah tidak perlu mengantri menggunakan kuota, namun resikonya juga sebanding adalah gagalnya jamaah haji ke tanah suci karena tidak keluarnya visa. Kisah di tahun 1433 H (2012) cukup mendominasi pada semua media di musim haji adalah gagalnya ribuan (travel menyebutkan angka sekitar 19.000, anggota DPR menyebutkan 3.500) calon Jemaah haji karena tidak mendapatkannya visa dari KBSA.

Salah satu penyebab dari kegagalannya ribuan Jemaah haji tersebut adalah adanya surat kesepahaman antara Kemenag RI dengan Kementrian Urusan Haji Arab Saudi yg hanya memberikan visa untuk para Pejabat dan VIP dan tidak diberikan untuk kepada jamaah yg dikelola pihak travel. Pemerintah Indonesia sedang berusaha keras untuk memberantas haji non-kuota tersebut karena menurut pemerintah Indonesia semua itu dapat menjadi beban ketika berada di tanah suci, terutama apabila tidak dikelola dengan baik oleh pihak travel.

Beberapa Jemaah ditelantarkan di tanah suci dikarenakan pihak travel yg tidak kompeten dan adanya permainan untuk mendapatkan visa. Sudah dari lama Kementrian Agama disinyalir menjadi salah satu sarang untuk korupsi, dan proyek tahunan terbesar seperti penyelenggaraan ibadah haji menjadi target utamanya. Belakangan, Menteri agama menjadi tersangka korupsi Haji di tahun 2012 ketika ribuan haji jalur non kuota tersebut gagal untuk berangkat.

Perbedaan Haji Reguler, Khusus dan Non-Kuota

Setiap tahunnya, Jemaah Haji Khusus non-Kuota ini selalu ada karena pemberian visa merupakan kewenangan KBSA. Jemaah haji yg ingin kepastian keberangkatan, dapat memilih haji regular atau jalur Haji Khusus Kuota. Bagi yg ingin bertaruh dengan resiko gagal berangkat, silakan bisa memilih Haji Khusus Non Kuota. Calon Jemaah haji tetap harus berhati-hati untuk memastikan namanya terdaftar dalam system kuota pemerintah dengan mendapatkan nomor porsi.

Ingin Berhaji, Namun Antrian Lama? Umroh Yuk … !!!

Rabbanitour – Travel Umroh Terpercaya Sejak 1996. Sudah lebih dari 3000 jamaah 100% berangkat ke tanah suci. Rabbanitour siap menjadi sahabat anda menuju Baitullah. Dapatkan info detail mengenai Paket Umroh melalui CS kami, bagi pengguna Whatsapp bisa KLIK langsung no di bawah ini:

klik salah satu staff kami untuk chat langsung via whatsapp bersama anda.

Kontak Langsung Via Whatsapp
DAPATKAN DISKON
HARI INI JUGA !
Rp 250.000*
CATATAN : PROMO TERBATAS untuk 50 ORANG SAJA! dan hanya berlaku 1 HARI SAJA untuk SEMUA PROGRAM UMROH*. Info lebih lanjut KONTAK KAMI SEGERA !
UPDATE : SISA SEAT PROMO TINGGAL 5 ORANG !
KESEMPATAN MENDAPATKAN PROMO FREE HANDLING DIPERPANJANG SAMPAI 3 SEPTEMBER 2017
EBOOK SEJARAH HAJI DAN UMROH
GRATIS
Ingin Mengenal Lebih Dalam Mengenai “Sejarah Haji Dan Umrah” ? akan kami kirim ke email Anda (PDF) sekarang juga Isi Nama dan alamat EMAIL Anda di bawah ini
All transactions are safe. We never share your data with 3rd partes.
2017 (C) All rights reserved.
2017 (C) All rights reserved.
Kontak Form
Customer Care kami akan menghubungi Anda, sesuai dengan preferensi waktu yang anda masukan.
2017 (C) All rights reserved.
Kontak Form
Customer Care kami akan menghubungi Anda, sesuai dengan preferensi waktu yang anda masukan.
2017 (C) All rights reserved.
2017 (C) All rights reserved.
Kontak Form
Customer Care kami akan menghubungi Anda, sesuai dengan preferensi waktu yang anda masukan.